Ghanisa Aesthetic Center Indonesia Adakan Program Hapus Tatto Gratis Bersama Polres Tanah Laut Kal Sel

STIGMA orang bertato masih lekat dengan pelaku kejahatan. Kesan negatif ini pun masih mendarah daging di tengah masyarakat Indonesia. Tak sedikit, orang yang tubuhnya berhias tato merasa risih.

INI PULA yang dirasakan Roni Nadya Pratama. Warga Desa Ketapang RT 1 RW 2, Kecamatan Bajuin, Kabupaten Tanah Laut ini mengaku pernah merasakan perlakuan itu di tengah masyarakat, gara-gara tato terukir di bagian tubuhnya.

Saat menunaikan shalat, Roni Nadya Pratama ditanya sebagian orang soal sah atau tidaknya ibadahnya. Atas dasar itu, Roni pun bertekat hijrah dengan menghapus tato di tubuhnya. Sayang, untuk menghilangkan tato, ternyata biayanya cukup mahal. Terbentur dana, Roni pun sempat mengurungkan niatnya.

Untungnya, ketika Polres Tanah Laut meluncurkan program hapus tato, niat Roni pun akhirnya kesampaian. Ia bercerita pernah satu kali menghapus tato dengan teknologi laser, ternyata ongkosnya mahal.

“Ada tato ukuran kecil di tubuh saya dihapus dengan cara tradisional. Pakai sabun cuci dicampur kapur. Kemudian dioleskan ke area tato yang ingih dihapus. Sekitar dua bulan, saya harus menahan sakit karena luka di bagian tato tak cepat hilang,” ungkap Roni kepada awak media, saat mengikuti program hapus tato di Mapolres Tanah Laut, Pelaihari, Senin (21/1/2019).

Merasa terbantu dengan program hapus tato gratis, Roni pun berencana menghapus tiga gambar yang masih terukir di jaringan kulitnya. Satu tato bergambar naga terbang di punggung. Dua tato tengkorak dan bunga mawar di lengan kirinya

“Alhamdulillah, semoga niat saya untuk hijrah total bisa semakin dimudahkan dengan program ini. Saya berterima kasih dengan jajaran Polres Tala. Dengan adanya program penghapusan tato gratis, saya makin mantap untuk berubah,” ucap Roni.

Untuk menghapus tato gratis dan higienis, Polres Tanah Laut pun menggandeng klinik kecantikan dan training center Ganisha Aesthetic Indonesia di Jalan Pancasila, Pelaihari. Apalagi, klinik ini milik anggota Sat Binmas Polres Tanah Laut, Brigadir Deddy Purnomo dan istrinya Hj. Rifatul Minnah.

Menurut Deddy, untuk menghapus tato digunakan alat elektronik bernama Tingmay Ndyag Laser System Portable yang mengantongi izin edar dari Kementerian Kesehatan RI.

“Alat ini dinilai paling aman dari efek samping yang minimal. Selain itu, tidak menimbulkan jaringan parut berlebih dan tidak begitu sakit karena menggunakan anestesi atau bius lokal dan diolesi salep antibiotik pasca dilaser,”  kata Deddy.

Menurut dia, alat ini juga berfungsi menyalurkan hawa panas yang bisa meleburkan tinta pada tato. Tinta yang melebur di bawah kulit tersebut, nanti akan hilang dengan sendirinya. Termasuk hilang bersama cairan yang keluar dari tubuh.

Diakui Deddy, untuk menghapus tato memang tidak bisa langsung hilang. Jadi, perlu beberapa kali pertemuan atau proses penghapusan tato. Tergantung ketebalan tinta pada tato.  Khususnya untuk tato dengan tinta warna terang seperti hijau dan merah yang bisa sampai empat kali pertemuan.

Setiap pertemuan, punya jeda waktu sekitar sebulan dari sebelumnya. Atau tergantung kesembuhan bekas laser di proses sebelumnya.

Menurut Deddy, di klinik kecantikan miliknya, alat ini digunakan untuk perawatan kulit. Tetapi bisa juga untuk menghapus tato dengan biaya normal Rp 200 ribu per centimeter.

“Rupanya harga normal tersebut, cukup mahal bagi sebagian orang yang ingin menghapus tato. Padahal, sebagian besar dari mereka sangat ingin menghapus tato karena menyesal,” papar Deddy.

Tergerak hal itu, Deddy bersama sang istri pun tergerak membantu orang-orang yang ingin hijrah dengan menghapus tato. “Saya merasa tidak merugi, meski harus digratiskan,” ucapnya.

Gagasan itu bak gayung bersambut. Respon datang dari Kasat Binmas Polres Tala, AKP Pitoyo dan didukung penuh Kapolres AKBP Sentot Adi Dharmawan, Wakapolres Kompol Ade Nur Ramdhani serta Kabag Ops Kompol Fauzan Arianto.(jejakrekam)

Tinggalkan Balasan